Kupang, 18 Juni 2026
Bersinergi Tingkatkan PAD Dan Bangun Kesejahteraan Masyarakat, P3B2 Beraudiens Dengan Gubernur NTT
African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika adalah penyakit virus yang sangat menular pada babi dengan tingkat kematian hingga (100 %). Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun obat untuk menyembuhkannya. Upaya utama peternak berfokus pada biosekuriti ketat, menjaga kebersihan, serta manajemen pakan untuk mencegah masuk dan menyebarnya virus.
Berikut adalah informasi lengkap terkait peternakan babi dan langkah penanganan terkini virus ASF:
Karakteristik & Situasi Peternakan Babi
*Dampak Ekonomi: Wabah ASF sangat memukul peternak lokal. Kematian babi dalam jumlah besar memicu kerugian ekonomi miliaran rupiah dan inflasi harga daging babi.
*Penyebaran: Virus sangat tahan di lingkungan (misalnya, pada daging beku yang bertahan hingga 118 hari) dan menyebar melalui kontak langsung antar babi, pakan sisa, atau peralatan yang terkontaminasi.
*Bukan Zoonosis: Meskipun sangat mematikan bagi babi, ASF sama sekali tidak menular ke manusia.
Upaya yang Dilakukan Akhir-Akhir Ini
Mengingat belum tersedianya vaksin massal yang efektif, pemerintah dan peternak mengandalkan langkah-langkah strategis berbasis pencegahan, antara lain:
-Penerapan Biosekuriti Ketat Peternak di berbagai daerah di Indonesia (termasuk Bali, NTT, dan Sulawesi) didorong untuk membatasi akses keluar-masuk kandang, mendisinfeksi peralatan secara rutin, serta melakukan karantina ketat untuk babi baru.
-Manajemen Pakan & Imunitas Melarang pemberian sisa makanan/sampah restoran ke babi dan mulai memberikan pakan fermentasi serta suplemen pencerah stres (seperti polifenol) untuk meningkatkan kekebalan tubuh babi secara alami.
Program Kolaboratif Pemerintah Pemerintah mengimplementasikan berbagai program khusus, seperti Capacity Building of Smallholder Pig Farmers (CABI) di wilayah seperti NTT dan Sulawesi Utara, yang bertujuan membekali peternak kecil dengan edukasi dan alat pendeteksi dini.
-Pengetatan Karantina dan Impor Badan Karantina Indonesia secara aktif meningkatkan pengawasan di perbatasan dan memberlakukan larangan masuknya daging babi serta produk turunannya dari negara yang baru saja melaporkan wabah ASF (seperti kasus impor dari Spanyol).
-Pembuangan Bangkai yang Aman Babi yang mati akibat ASF dimasukkan ke dalam kantong khusus dan segera dikubur oleh petugas. Kandang yang terinfeksi harus diisolasi dan dikosongkan setidaknya selama 2 bulan sebelum digunakan kembali.
Vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) untuk babi di Indonesia sudah ada dan program vaksinasinya telah dijalankan. Vaksin ini diberikan untuk hewan berkuku genap/belah, seperti babi, sapi, kerbau, kambing, dan domba.
Pemerintah secara berkala terus mendistribusikan vaksin untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini. Vaksinasi PMK difokuskan di berbagai wilayah sebagai langkah pencegahan, terutama di daerah sentra peternakan babi.
Karena stok vaksin dan jadwal penyuntikan dikelola oleh pemerintah daerah, untuk memastikan ketersediaan dosisq2 www di daerah. Hal yang perlu diperhatikan terkait Vaksinasi.
-Menghubungi Dinas Pertanian atau Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat.
-Menghubungi Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) di kecamatan terdekat.
Vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah tameng utama untuk melindungi hewan ternak berkuku genap seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi dari virus yang sangat menular. Pemerintah terus menggencarkan program vaksinasi terjadwal guna membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) demi menekan penyebaran penyakit dan menjaga ketahanan pangan asal hewan.
1. Hewan Sasaran Vaksinasi:Vaksin PMK diwajibkan untuk semua jenis hewan ternak berkuku genap/belah (cloven-hoofed), yang meliputi: Sapi dan Kerbau, Kambing dan Domba, Babi, Rusa dan hewan ruminansia liar lainnya
2. Jadwal dan Alokasi Vaksin; Program Bulan Vaksinasi Nasional dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian dalam dua periode utama setiap tahunnya untuk menjaga tingkat kekebalan optimal:
-Periode 1: Januari – Maret
-Periode 2: Juli – September
3. Syarat dan Ketentuan Vaksinasi; Sebelum disuntik, petugas kesehatan hewan akan melakukan seleksi ketat untuk memastikan keberhasilan vaksinasi: -Kondisi Sehat: Hewan harus dalam keadaan sehat, tidak menunjukkan gejala klinis PMK (seperti lepuh di lidah/kuku, hipersalivasi/air liur berlebih, dan demam tinggi).- Tunda Jika Sakit: Jika ditemukan hewan yang terinfeksi PMK dalam satu kandang, vaksinasi untuk kelompok tersebut harus ditunda. -Catatan Vaksin: Pelaksanaan vaksinasi (dosis 1, 2, dan booster) dicatat secara individual oleh petugas melalui sistem pelaporan.
Situasi PMK di Wilayah Kupang (NTT)
Berdasarkan hasil pemantauan dan pengujian laboratorium dari instansi terkait, Provinsi Nusa Tenggara Timur (termasuk Kota dan Kabupaten Kupang) secara konsisten dipertahankan sebagai wilayah nol kasus atau zona bebas PMK. Pengawasan lalu lintas ternak yang keluar-masuk wilayah kepulauan ini diperketat untuk melindungi populasi ternak lokal dari risiko penyebaran virus dari luar. Untuk informasi ketersediaan jadwal vaksinasi, status wilayah, atau permintaan vaksin bagi hewan ternak Anda di wilayah Kupang dan sekitarnya, Anda dapat berkoordinasi langsung dengan pihak berwenang melalui: -Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Timur (atau Dinas Pertanian/Peternakan Kabupaten Kupang). -UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) setempat.
Kondisi dan upaya pencegahan PMK di daratan Sumba meliputi:
-Pemusnahan Ternak Ilegal: Untuk mempertahankan status bebas PMK, Pemda Sumba Barat Daya sempat memusnahkan dua ekor sapi asal Bima, NTB, yang diselundupkan tanpa prosedur karantina resmi guna mengeliminasi risiko penularan.
-Pengetatan Pelabuhan: Pengawasan di pelabuhan laut dan perbatasan wilayah (seperti perbatasan Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah) terus dioptimalkan oleh Dinas Peternakan bersama instansi terkait untuk memeriksa dokumen kesehatan hewan yang masuk.
-Pemantauan Desa: Pemerintah kabupaten (seperti di Sumba Timur dan sekitarnya) secara rutin melakukan pemantauan klinis langsung ke desa-desa untuk memastikan tidak ada ternak yang menunjukkan gejala klinis PMK.
Penyebaran virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di Sumba mengakibatkan kematian massal babi, kerugian ekonomi triliunan rupiah, gangguan adat istiadat, hingga pencemaran lingkungan akibat pembuangan bangkai yang tidak sesuai standar di wilayah NTT.
Berikut adalah dampak utama wabah ASF di Sumba bagi peternakan babi di NTT secara keseluruhan:
-Kematian Massal Ternak: Virus ini sangat mematikan dan memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Sejak awal mewabah, virus ini telah menyebabkan kematian ratusan ribu ekor babi di seluruh NTT.
-Kerugian Ekonomi dan Finansial: Mengingat babi sangat lekat dengan kehidupan masyarakat NTT, kematian babi memicu hilangnya aset bernilai jutaan rupiah per ekor yang berujung pada kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah.
-Terganggunya Rantai Pasok dan Budaya: Larangan pengiriman ternak antarpulau untuk menekan penyebaran virus menghancurkan perdagangan babi. Selain itu, ketiadaan babi berdampak langsung pada pelaksanaan upacara adat dan ritual kebudayaan masyarakat setempat.
-Beban Psikologis Peternak: Tingginya angka kematian ternak dan hilangnya sumber mata pencaharian utama memicu tekanan mental, stres, hingga kecemasan bagi para peternak rakyat di Sumba dan NTT.
-Pencemaran Lingkungan: Penanganan yang keliru—seperti membuang bangkai babi ke sungai atau lahan terbuka alih-alih membakar atau menguburnya—mencemari lingkungan dan menyebarkan bau tidak sedap.
-Pengetatan Biosekuriti: Untuk menghentikan penyebaran, pemerintah memperketat lalu lintas hewan antar pulau dan mewajibkan peternak mengandangkan ternaknya, menjaga sanitasi kandang, dan membatasi pemberian pakan sisa (swill feeding).
Penutupan akses masuk ternak babi ke Pulau Sumba diberlakukan secara ketat sejak awal tahun 2024 oleh pemerintah kabupaten setempat. Langkah ini merupakan respons atas masifnya penyebaran wabah virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika yang mematikan ribuan ekor babi di wilayah Sumba.
Sebelumnya, wabah serupa juga sempat memicu pembatasan dan penutupan serupa sekitar tahun 2020. Kebijakan larangan ini bertujuan mutlak untuk memutus rantai penularan virus dan melindungi populasi babi lokal yang sangat krusial bagi perekonomian serta budaya masyarakat Sumba.
Catatan terbaru (2026): Kebijakan penutupan ini bersifat dinamis sesuai kondisi penyebaran virus di lapangan. Pada pertengahan tahun 2026, pemerintah daerah di Sumba mulai melakukan audiensi dengan kelompok peternak untuk membahas potensi pembukaan kembali izin pemasukan ternak babi.
Daratan Sumba saat ini dinyatakan bebas dari kasus aktif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak. Pemerintah daerah terus menjaga status zona hijau ini dengan menerapkan pembatasan lalu lintas ternak yang ketat untuk mencegah masuknya virus.
Foto: zona hijau Virus ASF Di NTT,Sumber Link Dinas Peternakan NTT di share oleh Plt Kadis:Senin 27/6;19:01
Kelompok Peternak, Pengusaha, Pedagang Babi NTT (P3B2 NTT) yang sudah mulai eksis dalam peternakan babi sejak tahun 2006 dan berhimpun dalam kelompok tahun 2010 di bawah kepemimpinan Bapak Marten Billi dengan 30-an anggota hingga saat ini pada permulaan bulan Nopember 2025 telah memberangkatkan 600-an Ekor babi ke daratan Sumba dengan belasan kendaraan truk dan Pick up ditengah maraknya virus ASF atas kordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT dengan mengikuti ketat uji Laboratorium, Karantina, Vaksinasi serta pengawasan melekat berjenjang dari Kota Kupang Provinsi NTT ke pelabuhan kedatangan ASDP Waingapu Sumba Timur hingga daerah tujuan daratan Sumba pada umumnya.
Pengawasan dan pendampingan bersama dengan melibatkan Dinas Peternakan NTT berjenjang, Karantina, Perhubungan, Lab Kesehatan Hewan Dinas Peternakan, hingga pihak keamanan dilihat cukup ketat dan serius.
"Setelah melewati prosedur ketat dan memenuhi segala ketentuan yang berlaku di daerah bahkan berjumpa dengan pemprov NTT pada Kamis 30 Oktober 2025, perwakilan 20 orang dari 40 orang anggota peternak/pedagang babi antar pulau yang selama ini melayani kebutuhan masyarakat akan daging babi di daratan Sumba mendapat keleluasan mengantarpulaukan babi 600 ekor dari Kupang ke Sumba Tengah (ST), Sumba Barat (SB) dan Sumba Barat Daya (SBD); Menyusul Pemerintah Kabupaten Sumba Timur melalui Bupati Umbu Lili Pekuwali belum mengeluarkan rekomendasi pemasukan ternak, dengan dalih pencegahan penyebaran virus ASF (African Swine Fever)" Kutipan berita media globaltwoindomedia pada situs https://www.globaltwoindomedia.com (3 /11/2025)
Praktis setelah penutupan total, jalur masuk ternak babi ke daratan Sumba maka 40 anggota peternak, pedagang, pengusaha babi NTT sejak November 2025 tidak lagi kerja di sektor ini, ada yang nganggur, ada yang alih kerja sampingan lainnya dan berdampak juga pada terputusnya mata rantai pasokan ternak dan daging babi.
Perhimpunan Peternak, Pengusaha, Pedagang Babi (P3B2) NTT yang beralamat Sekretariat Jalan Sumba Kelurahan Lasiana Kec. Kelapa Lima Kota Kupang pada akhirnya bersurat ke Gubernur NTT dengan No. 01/P3B2.A/IV/2026 tertanggal 8 Mei 2026 perihal beraudiens dengan Gubernur NTT. P3B2 mendapat kesempatan berjumpa dengan Gubernur NTT Melky Laka Lena di ruang kerjanya pada Senin 15 Juni 2026, Sebelumnya P3B2 dibawah kordinasi ketua bapak Marten Billi mendatangi sejumlah anggota DPRD NTT Asal Sumba di sela-sela acara sidang Paripurna DPRD NTT guna menyampaikan informasi lisan terkait pengeluhan mereka pada hari dan tanggal yang sama. Alhasilnya mereka diundang ke ruang Gubernur NTT, diterima protokol selanjutnya diarahkan ke ruang Gubernur NTT (15/6) sekitar pukul 12.15 witta. Seluruh barang bawaan di simpan di ruang titipan. Bersama P3B3 sudah ada Plt. Kadis Peternakan NTT, drh. Melky Angsar, M.Sc.
Gubernur NTT Melky Laka Lena, menyambut dengan hangat dan penuh senyum kepada perutusan P3B2 berjumlah 17 Orang, bahkan menjamu dengan kuliner khas NTT, sungguh penuh keakraban; Setelah Ketua Marten Billi memperkenalkan diri, anggota dan keberadaan P3B2 serta misi bersama membangun NTT juga berterima kasih atas dukungan pengiriman ternak babi ke Sumba sebanyak 600 ekor pada Nopember 2025. Atas perhatian dan dukungan Pemprov melalui Bapak Wagub NTT Johny Asadoma waktu itu maka ekspedisi-I dan ekspedisi II pengiriman ternak babi berjalan lancar dan Aman. Marten Bili juga menyampaikan permasalahan yang dihadapi anggota P3B2 selama 8 Bulan tidak memiliki pekerjaan terkait penutupan akses ternak masuk daratan Sumba. Selanjutnya Marten Billi juga memohon arahan dan petunjuk Gubernur.
Gubernur NTT Melky Laka Lena mendengar dengan seksama penjelasan Ketua P3B2 NTT selanjutnya memberi kesempatan kepada Plt. Kadis Peternakan NTT, drh. Melky Angsar, M.Sc. (Saat bulan Nopember 2026 bliau hadir dalam kapasitas sebagai Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner/Kesmavet; dan kemudian menjabat sebagai Sekretaris Dinas Peternakan NTT).
Menurut Melky Angsar, Kondisi sekarang dari data yang ada, sudah membaik, usai 8 bulan penutupan total akses masuk ternak babi ke daratan Sumba. Ketika ditanya soal alur masuk keluar ternak babi dari luar daerah NTT menurut Plt Kadis Peternakan NTT tetap dari luar NTT ditutup. Bahwa hingga kini kondisi sudah memungkinkan dan akses pengiriman bisa saja dapat dilakukan dalam wilayah NTT (antar pulau) tentu dengan mengikuti prosedur yang berlaku; Ketika ditanya Gubernur terkait ketersediaan Vaksin, menurut Melky Angsar vaksin tersedia dan cukup bahkan sudah di distribusi ke daerah dan Melky Angsar bersedia mengawal Ekspedisi kali ini dengan pemeriksaan ketat dari Kupang serta berkordinasi dengan jajaran peternakan di daerah guna mengawal dan memastikan kebijakan dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT termasuk upaya-upaya peningkatan PAD NTT dan daerah berjalan sesuai target dengan baik terutama demi kesejahteraan masyarakat NTT .
Setelah mendapatkan arahan dan petunjuk dari Gubernur Melky Laka Lena selanjutnya berpesan agar P3B2 juga perlu menambah kapasitas dukungan peternak, pengusaha,pedagang terhadap Vaksinasi bagi setiap ekor hewan dan selanjutnya mengikuti petunjuk dari dinas Peternakan NTT guna memastikan kelancaran pengiriman ternak babi ke daratan Sumba dalam bulan Juni ini dan memastikan memenuhi standar yang ada dari titik awal keberangkatan yakni Kupang dan jika semuanya sudah siap; Gubernur NTT juga berterima kasih atas peran serta P3B2 selama ini yang telah berkontribusi bagi pembangunan daerah NTT.
Ketua P3B3 bapak Marten Billi juga berterima kasih atas perhatian, dukungan dan kerjasama pemerintah provinsi, Bapak Gubernur Melky Laka Lena dan Wagub Johny Asadoma yang selama ini memberi perhatian serta menerima aspirasi mereka, menurut Marten Billi, P3B2 siap mengikuti ketentuan yang berlaku untuk pengiriman ternak kali ini;
Gubernur pun pamit untuk Event kegiatan lainnya dan memberi ruang dan kesempatan di tempat yang sama kepada P3B2 dan dinas Peternakan berdiskusi dan menyepakati beberapa point penting lanjutan sebagai kesepakatan bersama guna keberangkatan ekspedisi periode kali ini yang memiliki Multy efect Player terhadap berbagai pihak ditengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya membaik. Dan pengiriman ekspedisi kali ini akan dilepas oleh Dinas Peternakan NTT***
Siaran pers ini dipublikasikan oleh Gl🌏baltwo indo🇮🇩media.#AyoBangunNTT. *Vhe5eryputlynd*doc.glbltw.VI.2026.
IKLAN: GL🌏BALTWO INDO🇲🇨MEDIA
![]() |
| Lanjut: Moru Mart-Mebung Mart-Mali Mart-Bukapiting Mart,Wolwal Mart-Mola Mart-Batunirwala Mart-Apui Mart-Kolana Mart-Mataru Mart Dan Lainnya |





















































