Gl🌏baltwo indo🇮🇩media/ijin share/kpg/26/6/2026
Belu, 26 Juni 2026
Hadiri Festival Fulan Fehan, Gubernur NTT Apresiasi Tenun Ikat Sebagai Warisan Budaya Yang Harus Dilestarikan
Kehadiran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam pembukaan Exotic Tenun dan Parade Tenun pada rangkaian Festival Fulan Fehan IV di Lapangan Umum Atambua, Kabupaten Belu, Jumat (26/6/2026), menjadi momentum penguatan komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam mendorong budaya sebagai instrumen pembangunan ekonomi, pariwisata, dan hubungan lintas negara di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Didampingi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, Mendagri meninjau penyelenggaraan festival budaya yang melibatkan Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Malaka, serta partisipasi dari Timor Leste. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan budaya sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat persaudaraan masyarakat di Pulau Timor.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa tenun ikat bukan sekadar produk kerajinan tradisional, melainkan identitas budaya yang menyimpan sejarah, nilai kehidupan, hingga potensi ekonomi yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
"Tenun bagi kita di NTT bukan cuma sekadar kain. Tenun adalah cerita tentang berbagai situasi ketika tenun itu dihasilkan. Tenun juga adalah identitas yang menggambarkan siapa yang memakai kain tersebut, sekaligus hasil kerja keras dan kreativitas mama-mama NTT," kata Melki.
Menurutnya, keberadaan para perempuan penenun selama ratusan tahun menjadi alasan utama mengapa tenun NTT tetap bertahan hingga sekarang dan semakin dikenal luas.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para penenun yang terus menjaga warisan budaya tersebut, termasuk kepada Tim Penggerak PKK mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota yang aktif mempromosikan penggunaan tenun dalam berbagai kesempatan.
Melki mengungkapkan, berdasarkan pendataan yang dilakukan para pegiat tenun, sedikitnya terdapat lebih dari 700 motif tenun NTT yang telah berhasil diidentifikasi.
"Ini menunjukkan betapa kayanya budaya kita. Setiap motif memiliki cerita dan filosofi yang berbeda sehingga harus terus dilestarikan," ujarnya.
Tidak hanya menjaga warisan budaya, Pemerintah Provinsi NTT juga mulai membangun regenerasi penenun melalui dunia pendidikan.
Melki mengatakan keterampilan menenun kini telah menjadi salah satu mata pelajaran muatan lokal di sejumlah SMA dan SMK di NTT.
Kebijakan tersebut bertujuan agar kemampuan menenun tidak hanya dimiliki masyarakat di desa-desa, tetapi juga dipelajari generasi muda di perkotaan.
"Sekarang di SMA dan SMK sudah ada pelajaran menenun. Anak-anak belajar menenun di sekolah dan hasil tenun mereka dijual. Hasilnya bisa menjadi tambahan biaya pendidikan bagi para siswa," jelasnya.
Menurut Melki, langkah tersebut sekaligus membuka peluang lahirnya pelaku ekonomi kreatif baru yang berbasis budaya lokal.
Gubernur juga menilai promosi tenun NTT yang dilakukan dalam berbagai pameran nasional mulai menunjukkan hasil positif
Ia mencontohkan pameran tenun NTT di Jakarta yang mendapat apresiasi dari berbagai kalangan karena kualitasnya dinilai mampu bersaing dengan kain tradisional dari daerah lain.
"Sekarang banyak orang baru mengetahui bahwa tenun NTT tidak kalah dengan tenun atau kain tradisional dari daerah lain di Indonesia. Pengakuan seperti ini menjadi motivasi bagi para penenun kita untuk terus berkarya," katanya.
Selain memperkuat ekonomi kreatif, Melki menilai Festival Fulan Fehan memiliki arti strategis karena menjadi ruang diplomasi budaya antara Indonesia dan Timor Leste.
Menurutnya, masyarakat di kedua negara memiliki banyak kesamaan budaya karena sama-sama berada di Pulau Timor.
"Festival ini bukan hanya menyatukan Belu, TTU, dan Malaka, tetapi juga menyatukan dua negara. Kita memang berbeda secara administrasi pemerintahan, tetapi memiliki banyak kesamaan budaya, lagu, tarian, dan tenun. Budaya menjadi perekat hubungan persaudaraan kedua negara," ujarnya.
Ia berharap Festival Fulan Fehan terus berkembang sebagai agenda budaya internasional yang mempererat hubungan masyarakat di kawasan perbatasan.
Melki bahkan mendorong pemerintah daerah di wilayah perbatasan untuk memperluas kerja sama budaya hingga Australia, mengingat kedekatan hubungan NTT dengan Kota Darwin.
"Saya berharap kabupaten-kabupaten perbatasan bersama Kota Kupang dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan Indonesia dengan Australia, khususnya melalui Darwin," katanya.
Dalam kesempatan itu Melki juga memaparkan dampak ekonomi dari penyelenggaraan berbagai festival budaya di NTT.
Ia menyebut kunjungan wisatawan ke NTT sepanjang tahun sebelumnya meningkat hingga 146 persen, yang turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi.
Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa sektor budaya mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
"Saya percaya event-event budaya seperti Festival Fulan Fehan akan terus memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya di Belu dan kawasan perbatasan, sekaligus meningkatkan ekonomi kedua negara," ujarnya.
Melki juga berharap kehadiran Mendagri membawa perhatian lebih besar pemerintah pusat terhadap pembangunan kawasan perbatasan, termasuk melalui dukungan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dan kementerian terkait.
Sementara itu, Bupati Belu Wilibrodus Lay mengatakan Festival Fulan Fehan merupakan agenda budaya tahunan yang kini memasuki penyelenggaraan keempat.
Festival tersebut melibatkan tiga kabupaten di Pulau Timor yakni Belu, TTU, dan Malaka, serta mendapat partisipasi dari Timor Leste.
Menurut Wilibrodus, konsep utama festival adalah memperkuat hubungan masyarakat lintas batas melalui kebudayaan.
"Kita menjaga batas tanpa batas dengan persaudaraan. Kita membangun kebudayaan dengan persaudaraan dan membangun kemitraan melalui kerja sama," katanya.
Ia juga mengungkapkan Atambua memiliki sejarah penting dalam hubungan Indonesia dan Australia. Sebelum Indonesia merdeka, Atambua pernah menjadi salah satu titik persinggahan penerbangan internasional menuju Darwin.
Karena itu, kehadiran Wali Kota Darwin dalam festival tersebut dinilai semakin memperkuat hubungan sejarah sekaligus membuka peluang kerja sama baru di bidang pariwisata dan kebudayaan.
Wilibrodus berharap Festival Fulan Fehan dapat terus menjadi agenda tahunan yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus menjadikan Kabupaten Belu sebagai destinasi wisata budaya unggulan di kawasan perbatasan.
Usai mengikuti parade tenun, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama Gubernur Melki Laka Lena dan rombongan meninjau stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap pelaku UMKM lokal sekaligus memperkenalkan produk-produk unggulan masyarakat Belu kepada para tamu yang hadir dalam festival.
Turut hadir dalam kegiatan itu Ketua Umum TP PKK Tri Suswati Tito Karnavian, Ketua TP PKK Provinsi NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, Wali Kota Darwin Peter Styles, perwakilan Pemerintah Timor Leste, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT Adidoyo Prakoso, Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki, unsur Forkopimda Belu, serta pimpinan perangkat daerah Kabupaten Belu.
Siaran pers ini dipublikasikan atas kerjasama Biro Administrasi Pimpinan Setda Prov.NTT dengan Gl🌏baltwo indo🇮🇩media.#AyoBangunNTT. *Vhe5eryputlynd*biroAPsetda.ntt.(OP,I-I Q)
IKLAN: GL🌏BALTWO INDO🇲🇨MEDIA
![]() |
| Lanjut: Moru Mart-Mebung Mart-Mali Mart-Bukapiting Mart,Wolwal Mart-Mola Mart-Batunirwala Mart-Apui Mart-Kolana Mart-Mataru Mart Dan Lainnya |




















































