Atambua, 1 Juli 2026
Lilin Sahabat Dari Batas Negeri: Wagub NTT Buka Festival Perahabatan Internasional 2026 Di Atambua
Suasana hangat dan penuh persaudaraan menyelimuti Aula Betelalenok, Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu malam, 1 Juli 2026. Di gedung yang terletak di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste tersebut, digelar acara Friendship Dinner sebagai penanda resmi dimulainya perhelatan akbar bertajuk Festival Persahabatan Internasional 2026.
Acara yang mempertemukan tokoh-tokoh lintas agama, jajaran pemerintah daerah, institusi keamanan, hingga delegasi internasional ini menjadi momentum krusial untuk menyuarakan pesan perdamaian, persatuan, dan kesembuhan rohani dari batas negeri untuk seluruh dunia. Festival internasional ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 2 hingga 5 Juli 2026, berpusat di Lapangan Umum Atambua.
Perbatasan Sebagai "Lilin Kecil" di Tengah Kegelapan Dunia
Wakil Gubernur NTT memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bupati Belu dan seluruh masyarakat atas tingginya kreativitas dan ketahanan wilayah. Dalam hitungan hari, Belu dinilai sukses menepis stigma negatif daerah pinggiran dengan menyelenggarakan dua festival internasional berturut-turut.
“Ini prestasi yang luar biasa. Pertama, sukses dengan Festival Fulan Fehan yang dihadiri Mendagri, Wamendagri, PKK Pusat, Wali Kota Darwin, hingga delegasi Timor Leste. Malam ini, kita menghadiri Friendship Dinner Festival Persahabatan Internasional. Walaupun kita di perbatasan, kita telah membuktikan bahwa kita tidak kehilangan kreativitas, inovasi, serta semangat,” puji Wagub NTT.
Johni Asadoma juga menyoroti dampak riil perhelatan ini terhadap sektor ekonomi mikro. Keterlibatan puluhan UMKM lokal dipastikan akan memacu perputaran roda ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Belu secara langsung.
Lebih jauh, Wagub NTT merefleksikan kondisi geopolitik global saat ini yang dinilainya sedang karut-marut akibat absennya nilai persahabatan antar-bangsa. Ia mencontohkan konflik dan peperangan yang berkecamuk di berbagai belahan dunia, seperti peperangan antara Rusia dan Ukraina, ketegangan AS-Israel melawan Iran, konflik Israel-Suriah, hingga kekacauan kemanusiaan yang melanda Kongo, Uganda, Afghanistan, dan Pakistan.
“Dunia sekarang sedang tidak baik-baik saja karena tidak ada persahabatan. Jika kita bersahabat, tentu kita akan hidup berdampingan dengan damai. Apa yang dilaksanakan di Belu ini akan menjadi lilin kecil di tengah kegelapan dunia. Kami berharap pesan dari Belu ini diekspos secara masif agar patut direnungkan oleh seluruh umat manusia,” tegas Johni.
Mewakili Pemerintah Provinsi NTT, Johni Asadoma mengucapkan terima kasih kepada Anthony Greco beserta tim dari Kanada. Ia pun menaruh harapan besar agar pada tahun-tahun mendatang, festival mulia seperti ini dapat diselenggarakan di kabupaten-kabupaten lain di NTT guna memancarkan cahaya perdamaian dari NTT untuk dunia.
Kolaborasi Pelayanan Internasional dan Kerinduan Umat
Ketua Panitia Pelaksana, Vincensius B. Loe, dalam laporan pembukanya menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terselenggaranya acara ini. Ia mengungkapkan bahwa Festival Persahabatan Indonesia-Kanada ini lahir dari sebuah pergumulan doa bersama antara tim pelayanan dari Kanada yang dipimpin oleh Pengkhotbah Anthony Greco, serta kerinduan mendalam dari masyarakat yang hidup di wilayah perbatasan.
“Syukur kepada Tuhan karena kita dipertemukan dengan Anthony Greco dan tim dari Kanada. Festival ini diselenggarakan atas dasar doa dan disatukan dengan kerinduan bersama masyarakat perbatasan Indonesia-Timor Leste,” ujar Vincensius.
Mengusung tema “Kesembuhan Ilahi bagi Semua Orang”, Vincensius berharap kolaborasi pelayanan internasional ini mampu melahirkan pergerakan rohani yang berdampak positif, tidak hanya bagi kesatuan umat beragama tetapi juga bagi kemajuan kebudayaan lokal di Kabupaten Belu. Ia juga mengutip pesan mendalam dari Pemimpin Gereja Katolik Dunia untuk menegaskan esensi acara ini.
“Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa persatuan terjadi ketika umat Kristen dari berbagai denominasi mulai berjalan, berdoa, dan bekerja bersama untuk membantu mereka yang tersisih dan menderita,” tambahnya.
Selama empat hari pelaksanaan di Lapangan Umum Atambua, festival ini diprediksi akan menyedot perhatian massa dalam jumlah besar. Panitia memperkirakan sekitar 8.000 hingga 10.000 orang pengamat dan jemaat akan memadati lokasi acara setiap harinya. Selain diisi dengan kegiatan ibadah, seminar spiritual, dan friendship dinner, festival ini juga merangkul sektor ekonomi kerakyatan melalui pelaksanaan festival kuliner khas Belu yang melibatkan 100 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat yang telah terdaftar resmi.
Perbatasan Sebagai Tolok Ukur Toleransi Nasional
Apresiasi tinggi dan dukungan penuh mengalir dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Belu. Ketua MUI Kabupaten Belu sekaligus perwakilan FKUB Belu, H. Abdullah Belajam, menegaskan bahwa kehadiran delegasi Kanada di Atambua memberikan kehormatan tersendiri serta memperkuat posisi Belu sebagai laboratorium toleransi.
“Ini merupakan kebanggaan bagi kami, FKUB Kabupaten Belu, bisa berdampingan dengan Bapak Anthony dan rombongan. FKUB Belu mempunyai komitmen yang tinggi bahwa di ujung negeri perbatasan adalah tolok ukur toleransi persaudaraan antar-umat beragama yang akan menyinari seluruh Nusa Tenggara Timur, dan Indonesia pada umumnya,” tegas Abdullah dengan penuh semangat.
Menurut Abdullah, kehadiran perwakilan Pemerintah Provinsi NTT, yakni Wakil Gubernur, serta Bupati Belu dalam acara ini membuktikan adanya sinergi yang harmonis antara umara (pemerintah) dan ulama atau tokoh agama. Kolaborasi ini menjadi preseden luar biasa yang menunjukkan bahwa seluruh elemen memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menjaga perdamaian dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menolak Relasi Transaksional di Era Digital
Refleksi mendalam dipaparkan oleh Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gomar Gultom. Mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Atambua, Gomar menilai festival ini bernilai sangat vital dan strategis di tengah dinamika kehidupan modern.
Menurut Gomar, era digital yang menawarkan percepatan informasi justru membawa dampak sampingan berupa menipisnya keintiman hubungan antar-manusia. Hubungan persahabatan sejati yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, kini perlahan mulai tergerus.
“Kedekatan dan persahabatan makin hilang karena percepatan yang diakibatkan oleh peralihan masyarakat dari analog ke digital. Hubungan itu pada akhirnya sering sekali menjadi sangat transaksional. Persahabatan sekarang difabrikasi oleh media sosial, dan tempat curhat beralih ke Facebook,” kritik Gomar.
Oleh karena itu, Gomar memandang tema persahabatan yang diusung dalam festival ini bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan sebuah panggilan iman yang jujur untuk merajut kembali relasi antarbangsa, khususnya antara masyarakat Atambua dan Kanada. Ia berharap momen ini mampu mempererat hubungan antar-gereja, antar-denominasi, dan antar-agama. "Kita berharap dengan momen ini, Atambua benar-benar bertransformasi menjadi Kota Persahabatan," harapnya.
Makna 'Belu' dan Campur Tangan Ilahi
Bupati Belu, Willybrodus Lay, menyambut hangat seluruh delegasi dan undangan yang hadir. Dalam pidatonya, ia mengupas makna filosofis dari nama kabupaten yang dipimpinnya tersebut kepada para tamu internasional.
“Nama daerah ini Belu. Belu berarti teman (sahabat). Pemilihan Festival Persahabatan di Belu adalah sesuatu yang istimewa karena nama daerah ini sendiri merepresentasikan arti kata tersebut. Terima kasih karena telah memilih Kota Atambua,” ungkap Bupati Willybrodus.
Bupati Willybrodus membeberkan bahwa belum lama ini, tepatnya pada 27 Juni 2026, Pemerintah Kabupaten Belu baru saja sukses menggelar festival kebudayaan bertajuk Friendship Festival demi misi perdamaian. Berselang hanya tiga hari, kabupaten ini kembali dipercaya menjadi tuan rumah bagi festival internasional serupa. Bagi Willybrodus, rentetan acara berskala besar ini bukanlah suatu kebetulan belaka.
“Saya sangat yakin, menjatuhkan pilihan untuk Kota Atambua sebagai salah satu penyelenggara festival internasional tidak serta-merta terjadi. Pasti ada campur tangan dari Yang Mahakuasa. Walaupun sebelumnya kita tidak saling kenal, pelaksanaan ini membuat saya merasa sangat tersanjung,” tuturnya seraya mendoakan agar seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan aman dan membawa faedah bagi masyarakat luas.
Pesan Kasih Global dari Kanada
Sementara itu, Anthony Greco, perwakilan dari Calgary Life Church, Kanada, mengaku sangat terharu dengan penyambutan luar biasa yang diberikan oleh masyarakat dan pemerintah di Atambua. Ia menyebut bahwa sepanjang perjalanannya, ia belum pernah merasakan kehangatan dan penerimaan sebesar yang ia alami di Aula Betelalenok malam itu.
Dalam pemaparannya, Greco menjelaskan alasan mendasar mengapa timnya memilih istilah Friendship Dinner dalam pelayanan global mereka. Merujuk pada Kitab Kebijaksanaan, ia mengingatkan pentingnya menekan ego demi perdamaian.
“Raja Salomo pernah berkata, 'orang bodoh bisa memulai pertengkaran, tetapi orang bijak membangun persahabatan'. Itulah sebabnya kami datang dengan spirit persahabatan untuk menunjukkan pesan kasih Yesus yang menyambut semua orang, tanpa memandang latar belakang,” kata Greco.
Pria yang telah mengunjungi lebih dari 50 negara di dunia ini membagikan refleksinya bahwa di belahan bumi mana pun, manusia pada dasarnya menghadapi persoalan eksistensial yang sama: mencari arti hidup, cinta, dan kedamaian, sekaligus bergumul dengan ketakutan dan rasa bersalah akibat dosa atau keterpisahan dari Sang Pencipta.
Greco sempat membagikan sebuah kisah tragis di New York tentang seorang wanita yang tewas diserang di depan apartemennya. Meskipun korban berteriak selama dua jam, 38 tetangga yang mendengar teriakan tersebut sama sekali tidak bergerak menolong dengan berbagai alasan egois. Kisah ini dipakainya sebagai antitesis dari nilai persahabatan sejati.
“Yesus datang karena Ia mendengar teriakan umat manusia akan kedamaian, pengampunan, dan persahabatan. Begitu besar kasih Allah atas dunia, atas Atambua, atas Anda dan saya. Doa kami bagi Atambua, kiranya orang-orang boleh mengalami kasih Tuhan dalam kehidupan, supaya ada kesatuan dan sukacita yang besar,” ucap Greco memungkasi pesannya. Usai dari Atambua, ia beserta rombongan dijadwalkan bertolak ke Timor Leste pada minggu depan demi menjalankan program misi kemanusiaan dan spiritual yang sama.
Kehadiran Tokoh Lintas Sektor
Acara Friendship Dinner malam itu ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama. Kebersamaan tersebut menegaskan komitmen kuat dari seluruh elemen vertikal dan horizontal yang hadir.
Selain dihadiri oleh Anthony Greco, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, dan Bupati Belu Willybrodus Lay, tampak hadir pula Wakil Bupati Belu Vicente H. Gonsalves, Wakil Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Kamilus Elu, Ketua Majelis Pertimbangan PGI Gomar Gultom, serta Ketua MUI Kabupaten Belu Abdullah Belajam.
Turut ambil bagian dalam momentum bersejarah tersebut perwakilan pejabat dari Universitas Pertahanan (Unhan) Belu, Perwakilan Konsulado Timor Leste di Atambua, jajaran pejabat dari unsur sipil, jajaran komando TNI dan Polri setempat, pimpinan organisasi kemahasiswaan, organisasi pemuda, serta para tokoh masyarakat dan tokoh adat Kabupaten Belu. Seluruh elemen berkomitmen penuh menjaga agar Festival Persahabatan Internasional 2026 yang berlangsung hingga akhir pekan nanti berjalan dengan aman, tertib, dan damai.
Siaran pers ini dipublikasikan atas kerjasama Biro Administrasi Pimpinan Setda Prov.NTT dengan Gl🌏baltwo indo🇮🇩media.#AyoBangunNTT. *Vhe5eryputlynd*biroAPsetda.ntt(ML,RN)
IKLAN: GL🌏BALTWO INDO🇲🇨MEDIA
![]() |
| Lanjut: Moru Mart-Mebung Mart-Mali Mart-Bukapiting Mart,Wolwal Mart-Mola Mart-Batunirwala Mart-Apui Mart-Kolana Mart-Mataru Mart Dan Lainnya |
















































